KORELASI DEFISIT BASA GAS DARAH DAN TINGKAT MORTALITAS PADA PASIEN PERITONITIS SEKUNDER DENGAN SEPSIS BERAT

  • Vina Dwitia Departemen Bedah, Fakultas Kedokteran, Universitas Jenderal Achmad Yani, Cimahi, Jawa Barat, Indonesia
  • Haryono Yarman Departemen Bedah, Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran, Bandung, Jawa Barat, Indonesia

Abstract

Peritonitis sekunder merupakan jenis peritonitis yang paling umum. Sepsis berat yang disebabkan oleh peritonitis dapat meningkatkan angka kematian hingga lebih dari 30-50%. Nilai defisit basa gas darah dapat dipakai sebagai salah satu parameter perfusi jaringan. Iskemia organ yang tidak teratasi akan menyebabkan terjadinya kegagalan fungsi organ yang akhirnya menyebabkan kematian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui korelasi antara nilai inisial defisit basa gas darah dan tingkat mortalitas pada pasien peritonitis sekunder dengan sepsis berat. Rancangan penelitian yaitu kohort retrospektif pada 35 pasien peritonitis sekunder dengan sepsis berat yang masuk ke UGD Bedah RSUP Hasan Sadikin selama periode tahun 2013-2014. Analisis statistik dilakukan berdasarkan analisis korelasi Pearson untuk mengetahui besarnya koefisien korelasi (r) pada kedua variabel pada taraf kepercayaan 95%. Hasil penelitian berdasarkan outcome pasien meninggal dunia atau hidup, terdapat perbedaan bermakna pada nilai rerata kadar laktat (p = 0,028), nilai rerata Ph (p = 0,000), skor rerata Apache II (p = 0,001), nilai inisial defisit basa gas darah (p = 0,001), dan jumlah organ yang mengalami kegagalan (p=0,040). Terdapat hubungan antara defisit basa gas darah dengan tingkat mortalitas (r= -0,52) dan determinan korelasi (nilai R) 0,27 (p=0,001) yang artinya mortalitas akibat defisit basa gas darah adalah sebesar 27%. Pada analisis ROC diperoleh cut of point mortalitas sepsis berat berdasarkan nilai inisial defisit basa gas darah adalah -7,35 dengan sensitivitas 86,70% dan spesifisitas 45%. Dapat disimpulkan terdapat korelasi antara nilai inisial defisit basa gas darah dengan tingkat mortalitas pada pasien peritonitis sekunder dengan sepsis berat dengan kekuatan korelasi sedang.


Kata kunci: defisit basa, mortalitas, peritonitis sekunder, sepsis berat


DOI : 10.35990/mk.v5n4.p343-353

References

1. Brunicardi CF, Andersen D, Biliar TR, Dunn DL, Kao L, Hunter JG et al. Schwartz’s Principles of Surgery. 11th ed, Mc Graw Hill Medical, New York; 2019.
2. Zinner MJ, Ashley SW, et al. Maingot’s Abdominal Operations. 12th ed, Mc Graw Hill Medical, New York; 2013.
3. Schecter W. Peritoneum and acute abdomen. Dalam : Norton JA, Bollinger RR, Chang AE, et al. Essential Practice of Surgery: Basic science and clinical evidence. Springer, New York; 2003.
4. Daley BJ, Anand BS, Roy PK, Katz J. Peritonitis & abdominal sepsis. Dalam Medscape. 18 April 2013. Diunduh tanggal 15 Januari 2014. Tersedia dari http://emedicine.medscape.com/article/180234-overview#showall
5. Laura E, Andrew R, Waleed A, Massimo, et al: Surviving sepsis campaign: International guidelines for management of sepsis and septic shock. Critical care medicine. 2021; Vol 49.
6. William J, Marshall SKB. Hydrogen ion homoestasis and tissue oxygenation and their disorders. Dalam: Marshall WJ. Clinical biochemistry metabolic and clinical aspect, 3rd ed. Philadelphia: Churchill Livingstone. 2014; 65 - 92.
7. Gunnerson KJ, Saul M, He S. Lactat versus non-lactate metabolic acidosis: a retrospective outcome evaluation of critically ill patients. Critical Care. 2006;10:1-9.
8. Anugrah DP. Gangguan Asam Basa. Dalam: Sylvia A, Price LMW. Patofisiologi konsep klinis proses-proses penyakit.. Edisi 6. Buku Kedokteran EGC, Jakarta; 2012.
9. Baue AE. History of MOF and definition of organ failure. Dalam : Baue AE, Faist E, Fry DE. Multiple Organ Failur : Pathophysiology, prevention and therapy. Springer, New York,2008.
10. Wooten E W. Science review: Quantitative acid–base physiology using the Stewart model Critical Care. 2004, 8:448-452
11. Zhang Ling, Zhu Guijun, Han Li. Early goal-directed therapy in the treatment of severe sepsis an septic shock in adults. BMC Medicine. 2015.
12. Husain FA, Martin MJ, Mullenix PS, Steele SR, Elliot DC. Serum lactate and base deficit as predictors of mortality and morbidity. The American Journal of Surgery. 2003; 185: 485-91.
13. Smith I, Kumar P, Molloy S. Base excess and lactate as prognostic indicators for patients admitted to intensive care. Intensive Care Med. 2001;27:74-83.
14. Rixen D, Raum M, Bouillon B. Base deficit development and its prognostic significance in posttrauma critical illness: an analysis by the trauma registry of the deutsche gesellschaft fur unfallchirurgie. Shock. 2001;15:83-9.
15. Shapiro BA, Peruzzi WT, Templin RK. Clinical application of blood gases. Edisi ke-5. St.Louis. Mosby. 1990
16. Textoris J, Fouche L, Wiramus S, et al. High central venous oxygen saturation in the latter stages of septic shock is associated with increased mortality. Critical Care. 2011; 15(4).1-6.
17. Mark PE. Surviving sepsis: going beyond the guidelines. Annals of Intensive Care. 2011; 17(1):1-6.
18. Shiramizo SC, Marra AR, Durao MS, Paes AT, Edmond MB, Santos OF. Decreasing mortality in Severe Sepsis and Septic Shock Patients by Implementing a Sepsis Bundle in a Hospital Setting. Plos One Journal. 2011:6.
19. Kalil AC, Cawcutt Kelly. Sepsis in adults. BMJ . 2001 Nov 8 ; 345(19):1368-77.
20. Russell. Management of sepsis, N Engl J Med. 2006; 355: 1699 -713.
Published
2022-12-31
How to Cite
DWITIA, Vina; YARMAN, Haryono. KORELASI DEFISIT BASA GAS DARAH DAN TINGKAT MORTALITAS PADA PASIEN PERITONITIS SEKUNDER DENGAN SEPSIS BERAT. Medika Kartika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan, [S.l.], v. 5, n. 4, p. 343-353, dec. 2022. ISSN 2655-6537. Available at: <http://medikakartika.unjani.ac.id/medikakartika/index.php/mk/article/view/353>. Date accessed: 02 feb. 2023.